"History of Reggae"

12/31/2008 10:41:00 AM Posted In Edit This 2 Comments »







"Apa sih Reggae....???" 


Reggae
sendiri adalah kombinasi dari iringan tradisional Afrika, Amerika dan
Blues serta folk (lagu rakyat) Jamaika. Gaya sintesis ini jelas
menunjukkan keaslian Jamaika dan memasukkan ketukan putus - putus
tersendiri, strumming gitar ke arah atas, pola vokal yang 'berkotbah'
dan lirik yang masih seputar tradisi religius Rastafari.

Meski banyak
keuntungan komersial yang sudah didapat dari reggae, Babylon (Jamaika),
pemerintah yang ketat seringkali dianggap membatasi gerak namun bukan
aspek politis Rastafarinya. "Reg-ay" bisa dibilang muncul dari anggapan
bahwa reggae adalah style musik Jamaika yang berdasar musik soul
Amerika namun dengan ritem yang 'dibalik' dan jalinan bass yang
menonjol. Tema yang diangkat emang sering sekitar Rastafari, protes
politik, dan rudie (pahlawan hooligan).

Bentuk yang ada sebelumnya (ska
& rocksteady) kelihatan lebih kuat pengaruh musik Afrika -
Amerika-nya walaupun permainan gitarnya juga mengisi 'lubang - lubang'
iringan yang kosong serta drum yang kompleks. Di Reggae kontemporer,
permainan drum diambil dari ritual Rastafarian yang cenderung mistis
dan sakral, karena itu temponya akan lebih kalem dan bertitik berat
pada masalah sosial, politik serta pesan manusiawi.






"Siapa sih Om Bob Marley ntu.....???" 






Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada Februari 1945 di St. Ann, Jamaika, Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.


Bersama Peter McIntosh dan Bunny Livingston, Bob membentuk The Wailing Wailers yang mengeluarkan album perdana di tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston. The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat penggagasnya patah arang hingga memutuskan untuk berkelana di Amerika. Pada bulan April 1966 Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.

The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.

Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.






One Love! One Heart!
Lets get together and feel all right.
Hear the children cryin (One Love!);
Hear the children cryin (One Heart!)
(One Love / People Get Ready)

Dreadlock
Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.

Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.

Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.
Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).
Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon—istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.

Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.

Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.









Read More Gan...

~ Asykna bisa ngeblog ~

12/30/2008 01:22:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »

huy...huy...huy...........

apa kabar dunia..........?????(halah)hha*.........

ada yogie'z dicini....... pingin berbagi rasa nuih.......

Huft.......! ternata lumayan ribet bikin Blogz iah....
2 hari akuw bikin blog gag kelar2,sampe2 susah bu2 gara2 mikirin mo muat artikel apah ajah gt_
(huhuhuhuuw....... segituna)
tao gag c....... akuw ganti2 layout blog mpex berulang X lho..... abizna bingung mo pake iang mana_
tp2 akhirna nemu uga iang paz di hati_hikz...........
hmmmm......... saking asyikna ganti2 layout blog akuw s4 ancurrrrrr......!!!!

huh s4 pesimis uga c.....!
tp untungna da sobatkuw iang selalu support akuw wat ngeBlog lg_

go green....go green...go green.....!!!!!!hha*........

yeach!akhirna akuw jd cemangadz lagi...lagi...dan lagi.......!!!!

alhamdulillah bgt nui blog akuw uda jd,yaaaahhh..... mungkin masih keliatan cupu tp....

" it's never mind "

setidakna akuw uda berusaha wat ngeBlog ia gag c......?????

wkwkwkwkwkwkz...........

terutama akuw ucapin "Thx a lot" kepada Tuhan YME iang mana Dia telah memberikan ks4an akuw wat bikin Blog,tanpa Dia akuw gag bs seperti ini_(hha*..... bnr gag c....????)

teyuuuuzzz.......... wat sobatkuw iang paling hebatttt!!!!

www.DimasPrast.com

thx sob...... tanpa di ajarin kamow akuw gag bs kayak gini....
huhuhuhuhuwww..........
suksez celaluw wat sobatkuw...........!

hmmmmm............. makacih2 uda ny4in baca 'n kacih cenyuman_

wajib post comment lho!!!!

hohohohoooo.........

Read More Gan...

"Pesona Gunung Rinjani Di Pulau Lombok"

12/30/2008 01:06:00 PM Posted In Edit This 0 Comments »



Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726mdpl, terletak pulau lombok disebelah timur pulau Bali. Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi ke dua di Indonesia di luar pegunungan Irian Jaya dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, dengan luas sekitar 40.000 hektar serta gunung berapi tertinggi di Indonesia yang sering di kunjungi oleh para pendaki di Indonesia maupun mancanegara. Dikelilingi oleh hutan dan semak belukar seluas 76.000 hektar merupakan pemandangan yang asri bagi Gunung Rinjani.



Gunung Rinjani memiliki kawah dengan lebar sekitar 10 km, terdapat danau kawah yang disebut danau Segara Anak dengan kedalaman sekitar 230m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan para pendaki untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut “Segara Anak�. Pemandangan di pagi hari ketika matahari terbit merupakan bagaian dari "surga" pemandangan Gunung Rinjani yang amat mengesankan. Biasanya di sekitaran danau digunakan oleh para pendaki untuk melepas lelah bahkan sampai berhari-hari.

Menurut masyarakat setempat danau "Segara Anak" memiliki misteri serta kekuatan gaib. Keyakinan masyarakat apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek, untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya. Biasanya pada setiap tahun masyarakat setempat mengadakan upacara adat. Sampai saat ini puncak Gunung Rinjani diyakini oleh masyarakat Lombok sebagai tempat bersemayam ratu jin, penguasa gunung Rinjani yang bernama Dewi Anjani. Dari puncak ke arah tenggara terdapat sebuah kaldera lautan debu yang dinamakan Segara Muncar. Pada saat-saat tertentu dengan kasat mata dapat terlihat istana Ratu Jin. Pengikutnya adalah golongan jin yang baik-bauk. Menurut kisah masyarakat Lombok Dewi Anjani adalah seorang putri raja yang tidak diijinkan oleh ayahnya menikah dengan kekasih pilihannya, maka ia pun menghilang di sebuah mata air yang bernama Mandala, dan akhirnya dia menjadi penguasa dunia gaib.

Gunung Rinjani memiliki berbagai ekosistem yang masih terjaga secara alami. Hutan cemara, acasia, padang rumput bahkan edelweiss merupakan pemandangan yang dominan di perjalanan saat menuju puncak Gunung Rinjani. Selain memiliki berbagai jenis burung, juga terdapat binatang jenis lain seperti harimau, monyet, rusa, bahkan landak yang menjadi penghuni Gunung Rinjani ini

Read More Gan...

"Keindahan Di Pantai Senggigi Lombok"

12/30/2008 12:52:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »




Pantai Senggigi adalah tempat pariwisata yang terkenal di Lombok.

Letaknya di sebelah barat pesisir Pulau Lombok. Pantai Senggigi memang tidak sebesar Pantai Kuta di Bali, tetapi seketika kita berada di sini akan merasa seperti berada di Pantai Kuta, Bali. Pesisir pantainya masih asri, walaupun masih ada sampah dedaunan yang masih berserakan karena jarang dibersihkan. Pemandangan bawah lautnya sangat indah, dan wisatawan bisa melakukan snorkling sepuasnya karena ombaknya tidak terlalu besar. Terumbu karangnya menjulang ketengah menyebabkan ombak besarnya pecah ditengah. Tersedia juga hotel-hotel dengan harga yang bervariasi, dari yang mahal sampai hotel yang berharga ekonomis.
Read More Gan...

"PESONA CANDI Di TENGAH MISTERI DIENG PLATEAU"

12/30/2008 12:30:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »




Ketinggian 2.075 meter di atas permukaan laut menyembunyikan sebuah dunia lain di balik kabut. Dunia di mana pelukan alam sangat
terasa. Dunia yang menjadi tempat pertemuan antara manusia dengan dewa-dewa yang dipujanya. Tempat itu bernama Dieng. Berasal dari kata dihyangyang berarti tempat arwah leluhur atau para dewa.


Empat gugusan candi masih berdiri anggun di dataran tinggi ini melewati putaran waktu ratusan tahun. Hanya itu yang berhasil selamat dari seleksi alam, yaitu dari gejolak alam pegunungan berapi di bawahnya, penduduk sekitar yang kurang memahami nilai historis, serta jarahan pencuri.

Saat ini, sebagian candi di empat gugusan candi itu hanya meninggalkan reruntuhan, bahkan hilang. Yang tersisa, gugusan Candi Arjuna yang terdiri dari Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Sementara itu, gugusan candi lain menyisakan masing-masing satu candi, yaitu Candi Gatotkaca, Dwarawati, dan Bima.

Tak mudah mengungkap kisah di balik candi-candi yang bertebaran di dataran tinggi yang ada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, ini. Sedikitnya 13 prasasti ditemukan di kompleks ini, tetapi tidak menjelaskan pendirian candi. Sebagian besar sulit dibaca, sementara yang terbaca tidak menyebut candi tertentu. Prasasti yang tertulis dalam huruf Pallawa dengan Bahasa Jawa Kuno ini memuat angka tertua 731 Saka (809 Masehi) dan termuda 1.132 Saka (1.210 Masehi).
Ciri arsitektur bangunan candi digunakan untuk memperkirakan masa pembangunannya.




Candi candi Dieng dibangun pada masa berbeda, yaitu antara abad VII – XIII. Peran candi di Dataran Tinggi Dieng sebagai pusat kegiatan agama Hindu, terutama pemuja Dewa Syiwa, tak diragukan lagi. Namun, seperti apa denyut nadi yang pernah menggerakkan percandian agung ini masih menjadi misteri. Bahkan, nama candi yang saat ini mengacu pada tokoh pewayangan
pun diperkirakan baru diberikan berabad setelahnya. Nama asli masing-masing candi juga misteri. Misteri yang sangat menarik untuk
diungkap demi pembelajaran bagi masa depan.






Read More Gan...

"Jaga dan Lestarikan Terumbu Karang"

12/29/2008 03:18:00 PM Posted In Edit This 0 Comments »



Dengan adannya sitem kelembagaan diharapkan rangkaian tugas dan dan tanggung jawab serta wewenang masing-masing unit beserta jajarannya dapat disinerjikan secara jelas dan tidak tumpang tindih guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Pelaksanakan workshop ini diharapkan menghasilkan beberapa rekomendasi yang dapat digunakan sebagai upaya pengembangan penguatan kelembagaan dan dapat diimplementasikan diberbagai tingkatan kalangan masyarakat, Sebagai wujud suatu tindakan penyadaran betapa pentinggnya keberadaan ekosistem terumbu karang.


untuk itu di harapkan seluruh komponen masyarakat, khususnya para nelayan dihimbau menjaga kelestarian terumbu karang, Hal ini disebutnya penting, karena rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang adalah program yang tidak mudah. Contohnya untuk dapat menumbuhkan karang satu centimeter saja normalnnya membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun demikian dengan adannya sebuah lembaga, Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap), yakni sebuah lembaga yang melakukan rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang di laut Papua, Astiler mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan melindungi terumbu karang dengan tidak menggunakan alat penagkap ikan dari bahan-bahan yang merusak kelestarian alam bawah laut seperti bom ikan dan alat –alat lain yang dapat merusak ekosistem terumbu karang. “Pengeboman ikan dapat merusak terumbu karang. Untuk itu, saya berharap para nelayan tidak menangkap ikan dengan cara melakukan pengeboman dibawah laut yang dapat merusak terumbu karang, kegiatan rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang adalah program jangka panjang yang diprakarsai Pemerintah Pusat melalui tiga fase, yaitu fase Inisiasi yaitu membangun berbagai sistem pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat, fase Akselerasi (percepatan) yaitu implementasi sistem pengelolaan terumbukarang dan fase Instutionslistion (kelambagaan) yaitu penyempurnaan institusi, administrasi keuangan untuk menata kelangsungan program Coremap.

Sementara itu, workshop tersebut menjaring isu-isu pengelolaan dan konservasi terumbu karang yang menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan dijadikan pilot Projeck untuk pembangunan dan rehabiltasi terumbukarang kedepan. Tak lupa pula workshop yang berlangsung selama satu hari tersebut mendatangkan narasumber dari Universitas Hasanuddin Makasar Syafudin Yusuf, ST., M.Si. dan peserta workshop tersebut dari kalangan akademisi, TNI AL, Polair, LSM, Mitra Bahari, Bapeda, Dinas Pendidikan.

Read More Gan...

"PESONA SURGA BAWAH LAUT Di KALBAR"

12/29/2008 01:49:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »



Eksotis... Itulah kesan yang tergambar dari tiga pulau yang ada di Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang. Pulau Randayan, Pulau Lemukutan dan Pulau Kabung memiliki pesona yang luar biasa. UNTUK mereguk keindahan alam ketiga pulau tersebut tidaklah susah. Transportasi darat dan laut telah tersedia untuk menuju surga bawah laut tersebut. Dari Pontianak, rombongan yang terdiri atas para jurnalis Kota Pontianak yang tergabung dalam Forum Jurnalis Langkau, Sakawana serta Inhasa Diving Club, berangkat menggunakan bus. Perjalanan ditempuh selama 2,5 jam dengan rute Pontianak— Teluk Suak Bengkayang.


Teluk Suak berada sekitar 115 kilometer dari Kota Pontianak, atau 32 kilometer dari Kota Singkawang. Dari dermaga Teluk Suak, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan motor air. Angkutan penumpang tersebut tersedia sekitar pukul 9.00 sampai dengan 10.00 WIB. Untuk penumpang umum, biasanya dikenakan tarif sekitar Rp7.500—Rp10.00 per orang untuk sampai ke Pulau Kabung. Atau, untuk yang ingin berpergian dalam rombongan jumlah besar, bisa menyewa motor air yang disediakan oleh masyarakat setempat. Alam siang itu cukup bersahabat. Matahari tidak begitu panas. Semilir angin laut, membuat mata seakan ingin terpejam.

Dari daratan sudah tampak sebuah pulau yang berdiri menantang. “Itu pulau Penata,” kata salah seorang penambang motor air. Pulau Randayan menjadi tujuan pertama rombongan. Akan tetapi, motor air berhenti sejenak di Pulau Lemukutan. Ini dilakukan untuk mengambil makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Kurang lebih 15 menit bersandar di dermaga Pulau Lemukutan, motor air kemudian bergerak ke tetangga sebelah, Pulau Randayan. Sekitar 15 menit sampailah di pulau kecil nan indah itu. Pulau kecil ini dikenal akan keindahan panorama batu-batu karang, berbagai jenis ikan tropis serta kehidupan laut sekitarnya. Pulau Randayan mempunyai pantai dan warna air yang sangat jernih, cocok untuk olahraga menyelam. Tersedia villa-villa kecil menghadap ke laut. Dari kejauhan tampak hamparan pasir putih membentang. Pohon-pohon kelapa tertiup angin kencang. Pulau ini mempunyai kelebihan akan alamnya yang memesona. Untuk penginapan, di Randayan tersedia cottage dengan harga bervariasi. Ada yang seharga Rp150 ribu permalam. Cukup untuk satu keluarga. Di dasar laut Pulau Randayan, terdapat banyak misteri kehidupan.

Dari perilaku hidup terumbu-terumbu karang, hingga kisah-kisah makhluk hidup lainnya. Mereka tumbuh dan berkembang biak secara alami dalam sebuah mata rantai kehidupan yang panjang. kondisi geografis pulau ini sangat layak dikunjungi. Letaknya sangat strategis. Aman serbuan ombak besar Laut Natuna. Berdasarkan catatan yang ada, Pulau Randayan memiliki karang hidup sekitar 4,50 hektar, karang mati 3,69 hektare, lamun 0,63 hektar, dan pasir seluas 4,77 hektare. Kondisi itu sangat memungkinkan bagi siapa pun pehobi selam mengunjunginya. Keindahan alam Randayan dimanfaatkan oleh salah seorang pelukis yang ikut serta dalam rombongan ini, Zul Ms. Ia mengabadikan keindahan tersebut dalam sebuah kanvas. Surga Diving di Lemukutan Pulau Lemukutan menjadi tujuan berikutnya. Pulau ini terbesar di Kabupaten Bengkayang dengan luas sekitar 7567 Ha, lebih luas dari Pulau Penata Besar dengan 4.675 Ha. Pulau Lemukutan ini diapit oleh pulau-pulau kecil, seperti Randayan dan Kabung. Kabupaten Bengkayang memiliki 12 pulau kecil dengan kekayaan alam berlimpah-ruah. Baru lima dari 12 pulau, dihuni penduduk. Termasuk Pulau Lemukutan. Selebihnya, masih seonggok pulau tanpa penghuni. Gugusan karang yang berwarna-warni akan semakin jelas terlihat saat menaiki perahu menuju Pulau Lemukutan. Bagan-bagan nelayan menyambut kedatangan. Kedalaman air di pulau ini antara dua hingga tiga meter sangat memudahkan bagi para penyelam pemula. Di dasar laut kita dapat menikmati beraneka ragam tumbuhan laut yang berwarna warni, ikan-ikan tropis yang indah-indah dan beraneka ragam. Tak banyak yang mengetahui asal mula sebutan Lemukutan, namun dari sekian banyak cerita rakyat yang ada, jika kita lihat dari topografi pulau ini memang menyerupai badan seekor lembu. Kondisi hutan yang masih perawan, terjaga secara alami oleh masyarakat setempat, membuat pulau ini masih sangat alami.

Sepanjang perjalanan sebelum sampai di pulau Lemukutan, terlebih dahulu melewati gugusan pulau-pulau lain yang pemandangan bawah lautnya tidak kalah indah. Air yang jernih, menyebabkan dasar laut dengan tumbuhan karang berwarna-warni, dapat dilihat langsung dari atas perahu. Bisa juga melihat rumput laut yang dibudidayakan masyarakat setempat. Bermalam di pulau ini sungguh mengasyikkan. Tidak seperti di Randayan yang menyediakan cottage, di pulau ini pengunjung dapat menginap di rumah penduduk yang memang disediakan khusus bagi para pengunjung. Rombongan menginap di rumah Arifin, warga sekitar. Pengunjung ddapat merasakan manisnya cumi dan ikan segar yang baru ditangkap nelayan. Penyelam dari Inhasa Diving Club sangat mencintai pulau ini untuk aktifas mereka. Salah satu bagian laut di pulau ini berbentuk curam seperti jurang. Di sinilah keindahan alam bawah laut dapat ditemukan. Kabung Surga Snorkling Bermalam di Randayan, rombongan bertandang ke Pulau Kabung keesokan harinya. Di pulau inilah surga bagi para pengunjung untuk menikmati keindahan karang-karang aneka warna dan godaan ikan-ikan tropis. Cukup dengan berbekal peralatan snorkle dan mengapung di air, Anda akan bertemu dengan alam lain yang begitu indah. Jam demi jam akan lewat begitu cepat dan tak terasa. Ikan badut (clownfish), atau lebih populer dengan sebutan nemo (tokoh utama dalam film ‘Finding Nemo’) akan menyapa Anda. Jika berbekal roti tawar dan menyebarkannya di dalam air, maka ikan-ikan tersebut akan segera mendekati. Sama seperti di Lemukutan, di pulau ini para pengunjung juga dapat bermalam di rumah penduduk yang telah disediakan.

Seperti di homestay milik Ukas. Dengan merogoh kocek Rp100/malam, Anda akan dijamu sehabis-habisnya. Makanan yang lezat, ditambah dengan camilan yang selau datang silih berganti. Di pulau ini para pengunjung juga dapat menikmati panorma pantainya yang indah. Dari homestay Ukas, untuk sampai ke pantai tersebut, pengunjung dapat berjalan kaki menyisiri bukit yang ditumbuhi pohon cengkeh sekitar 15 menit. Perjalanan menuju ke pantai tersebut merupakan suatu pengalaman tersendiri. Harumnya bunga cengkeh menjadi seperti aroma terapi jiwa, bagi yang lelah dengan penatnya kehidupan kota dan polusi udara yang menyiksa. Di pantai tersebut terdapat batu-batu yang besar dengan pasir yang putih. Wisata lainnya yang bisa didapatkan di Pulau Kabung atau Lemukutan yakni ikut mancing di bagan-bagan nelayan. Bagi pecinta fotografi, ketiga pulau tersebut juga merupakan surga tersendiri untuk merekam keindahan ciptaan Tuhan melalui lensa.

“Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah. Indahnya misteri-Mu, tak ada satupun kata yang terucap. Seperti sudah Engkau atur dalam masing-masing titik waktu. Hingga pada suatu saat menghantar ku ke tempat ini,” kata Shando Safella, fotografer koran ini mengagumi keindahan ketiga pulau tersebut.


Read More Gan...