* 10 Kualitas Pribadi Yang Disukai *

9/14/2009 11:48:00 AM Posted In Edit This 1 Comment »


Nuliiisss...... Nuliiiiss...... nuliiiisss..... Sedikit cerita ni...... kemaren2 waktu lagi googling nggak sengaja nemuin sebuah artikel, hmmm.... aku buka & aku baca saat itu jg,wah ternyata BERMANFAAT bgt,setelah selesai ngebaca tu artikel aku langsung nyari sumberna tu dari mana gtu,ohohohoo..... akhirna ketemu dan aku ngedaftarin diri jd member tu sumber. (^_^)

Beruntung bgt loch melalui email qta bisa dptin kata2 bijak motivasi secara GRATIS !!! :D
Lalu aku berpikir,”Wah boleh jg kalo artikel2 tersebut aku posting di blog tercinta,hihihiii..... setidakna aku bisa berbagi ma temen2 laena yg belom tao soal artikel itu.Lumayan kan kalo bermanfaat jg buat orang lain???”.hehe.....
;)

Haaa...... uda nggak sabar ni pingin cepet2 posting tu artikel,mudah2an barmanfaat buat qta semua.Amien......

ok sekarang jg dech aku posting artikelna...... :D
ni dia ni....... Tarrrrraaaaaa........... :))

*10 Kualitas Pribadi Yang Disukai*

1. KETULUSAN. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yg tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan, atau memutarbalikkan fakta.

2. KERENDAHAN HATI. Orang yg rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yg di atasnya merasa oke dan membuat orang yg di bawahnya tidak merasa minder.


3. KESETIAAN. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yg kuat, rela berkorban, dan tidak suka berkhianat.


4. POSITIVE THINKING. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.


5. KECERIAAN. Orang yg ceria adalah orang yg bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh, dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong orang lain menjadi semangat.


6. BERTANGGUNG JAWAB. Jika melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Saat mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yg bertanggung jawab atas apapun yg dialami, dan dirasakannya.

7. PERCAYA DIRI. Menerima dirinya apa adanya, menghargai dirinya, dan menghargai orang lain. Orang yg percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yg baru. Dia tahu apa yg harus dilakukan dan melakukannya dengan baik.


8. KEBESARAN JIWA. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yg berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan.


9. EASY GOING. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan.


10. EMPATI. Orang yg berempati bukan saja pendengar yg baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami, dan mengerti orang lain.




Sumber : Anne ahira-Asian Brain (Kartu Pintar produksi Visi Victory Bandung )
Read More Gan...

Apapun yang Terjadi Patut disyukuri...

9/09/2009 12:10:00 PM Posted In Edit This 3 Comments »



Disebuah kerajaan, ada seorang raja yg mempunyai kegemaran berburu, suatu hari ia ditemani oleh penasehat dan pengawalnya untuk pergi berburu.

Saat berburu terjadi...
kecelakaan,karena kurang hati2, jari kelingking kaki raja terpotong oleh pisau yg sangat tajam.
Raja bersedih, dan meminta pendapat dari penasehatnya. Penasehatnya menghibur dengan kata2 yg manis, tapi raja tetap bersedih.

Akhirnya sang penasehat mengatakan
“apapun yg terjadi patut disyukuri”.

Mendengar ucapan si penasehat, raja jadi marah.
“Kurang ajar! kena musibah bukannya
dihibur malah disuruh bersyukur”.
Raja lalu memerintahkan untuk menghukum penasehatnya selama 3 tahun penjara.

Hilangnya kelingking tidak menghentikan kegemaran raja untuk berburu, Suatu hari raja beserta penasehat barunya dan rombongan berburu lagi ke hutan yg jauh dari istana.

Tidak terduga, saat berada di tengah hutan, raja dan penasehat tersesat dan terpisah dari rombongan.

Tiba-tiba dihadang oleh suku primitif, mereka berdua ditangkap dan akan dijadikan korban persembahan kepada para dewa. Keduanya lalu dimandikan. Saat raja dimandikan, ketahuan bahwa ada jari kelingking yg tidak lengkap, alias cacat. Raja ditendang dan dibebaskan begitu saja. Lalu raja bersusah payah kembali ke istana.

Setibanya di Istana, raja segera memerintahkan untuk membebaskan penasehatnya dari penjara.

“Penasehatku, aku berterima kasih kepadamu, nasehatmu ternyata benar, apapun yg terjadi patut disyukuri, karena hilangnya jari kelingkingku waktu itu, membuatku hari ini pulang dengan selamat”.

Kemudian rajapun menceritakan kisahnya dengan lengkap. Setelah mendengar cerita sang raja, buru2 si penasehat berlutut sambil berkata,
“Terima kasih baginda raja, saya juga bersyukur baginda telah memenjarakan saya. Karena jika tidak, mungkin yg dipersembahkan untuk dewa oleh suku primitif tersebut adalah saya”.

Sama halnya dengan proses kehidupan kita. Tidak mungkin berjalan mulus seperti kehendak kita.
Karena kita dihadapkan dengan kenyataan hidup berupa musibah, penyakit, kegagalan, bencana alam, penipuan, fitnah, dll. Dalam kenyataan kita sebagai manusia, kita tidak mampu memecahkan misteri ini dengan mengandalkan pikiran kita semata.

Jika kita tidak
mampu menerima apa yg memang tidak mampu kita rubah, maka kita akan menderita secara mental dan berkepanjangan.

Tapi kalau kita bisa menerima secara apa adanya, ikhlas, apalagi bisa bersyukur akan musibah itu, maka beban mental akan jauh lebih ringan. Dan yg pasti perlu kita yakini, disetiap musibah selalu ada hikmah yg kita dapatkan.
Apapun yg terjadi patut kita syukuri...

;)


Oleh : Andrie Wongso
Read More Gan...

Kelinci Yang Pemberani

9/02/2009 02:13:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »


Dikisahkan, ada seekor kelinci sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru. Tapi...
dari hari ke hari dia tidak juga memiliki keberanian untuk melaksanakan
niatnya. Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si kelinci terpaksa membulatkan tekad memberanikan diri keluar dari rumahnya, mulai berjalan ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang.

Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang, katanya dalam hati,

"Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu,
mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya akan tersesat dan... entah bagaimana nasibku nanti!"

Ketika si kelinci sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan,
tiba-tiba ada suara menyapa di dekatnya,

"Halo kelinci putih! Apa kabar? Aku siput. Senang sekali melihatmu keluar dari
rumah lamamu. Aku tahu, kamu tentu bosan kekurangan makan karena musim dan cuaca yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan yang lebih baik kan?".

Si kelinci pun bertanya kepada si siput yang sok tau,

"Benar siput. Aku memutuskan pergi dari sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah kamu tau, apa yang ada di depan sana?"

" oh...Aku tau, jalan ke depan yang akan kamu lewati, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang gelap yang harus kamu lewati, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan, aku beritahu, pintu goa sebelah sana terbentang sebuah tempat yang terang, indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana kamu pasti bisa hidup dengan baik seperti yang kamu inginkan".

Si siput dengan bersemangat memberi dorongan kepada si kelinci yang tampak
ragu dan ketakutan.

"siput..., apakah tidak ada jalan pintas untuk sampai ke sana?" Tanya kelinci.


"Tidak sobat. Kalo kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus melewati
semua tantangan itu.
Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demi langkah,
fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah berjalan.Pasti kamu akan tiba di sana dengan selamat.

Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!" sambil berteriak penuh semangat, si siput pun meninggalkan kelinci.


temen2 yg baegh.... :

Memang benar.... kemenangan , kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar, tau apa yang menjadi keinginannya sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis-habisan melalui cara2 yang benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan.

Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah di praktekan oleh manusia
sukses berabad-abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya masing2.

Maka ...untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori-teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai yang akan di capai dan take action!

Ambil tindakan!


;)



Oleh : Andrie Wongso
Read More Gan...

Menulis Di Atas Pasir

9/01/2009 12:51:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »


Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara mereka, salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku.
Lalu...
dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah katapun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir
"Hari ini temanku telah memukul aku !!!"


Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, ya ..dasar-anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama.

Saat lari berkejaran, karena tidak berhati-hati,
Tiba-tiba, anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lobang perangkap yang dipakai menangkap binatang "Aduh.... Tolong....Tolong!" ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lobang dan berseru
"Teman,
apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu".

Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia
kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon,

"Teman, Aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan ku
lemparkan ke kamu, tangkap dan ikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang".

Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itupun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata,

"Terima kasih, sobat!". Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu besar dan berusaha menulis di atas batu itu
"Hari ini, temanku telah
menyelamatkan aku".

Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan,

"Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?"

Anak yang di pukul itu menjawab
sabar,

"Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan
kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak.

Tapi ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat".


kesimpulan,

Hidup dengan memikul beban kebencian, kemarahan dan dendam, sungguh melelahkan. Apalagi bila orang yang kita benci itu tidak sengaja melakukan bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti hati kita, sungguh ketidakbahagiaan yang sia-sia.

Memang benar.... bila setiap kesalahan orang kepada kita, kita tuliskan di atas pasir, bahkan di udara, segera berlalu bersama tiupan angin, sehingga kita tidak perlu kehilangan setiap kesempatan untuk berbahagia.

Sebaliknya.. tidak melupakan orang yang pernah menolong kita, seperti tulisan yang terukir di batu. Yang tidak akan pernah hilang untuk kita kenang selamanya.

;)


Oleh : Andrie Wongso
Read More Gan...

Berbagi dan Berbahagialah... (^_^)

8/31/2009 09:55:00 AM Posted In Edit This 0 Comments »



Alkisah, ada seorang anak kelas 5 SD bernama Adi. Setiap hari, Adi tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Biasanya saat ia datang, belum ada satu pun teman sekelasnya yang datang.

Suatu hari, saat istirahat, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari rumah berkurang separuh .
“Siapa ya yang mengambil bekalku?” batinnya dalam hati sambil mengitarkan pandangan curiga ke seputar kelas.

Sepulang dari sekolah, diceritakan kasus bekal yang hilang kepada ibunya. “Ibu tidak lupa menyiapkan bekal untukku sebanyak dua potong kan?” tanya Adi penasaran.

“Iya, Ibu ingat sekali menyiapkan bekalmu dua potong, bukan sepotong,” jawab ibu Adi meyakinkan.

Seminggu kemudian, saat kembali ke kelas, tanpa sengaja, Adi terkejut melihat penjaga sekolah mengendap-endap memasuki kelas yang masih kosong. Dia membuka tas Adi dan mengambil sepotong bekalnya. Kemudian bergegas pergi dengan muka tampak tertekan dan murung.

Sepulang dari sekolah, Adi menceritakan kejadian itu kepada ibunya. “Ibu, ternyata pencurinya si penjaga sekolah. Apa yang harus Adi lakukan, Bu? Kalau Adi laporkan ke wali kelas atau kepala sekolah, dia pasti diberi sanksi, bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Kasihan kan Bu? Walaupun orangnya baik, tapi yang diperbuat kan salah”.

Dengan tersenyum sayang, ibunya menjawab, “Saran ibu, jangan dilaporkan dulu ke sekolah. Ibu kenal baik keluarga penjaga sekolahmu itu. Dia bukan penjahat. Pasti karena terpaksa dia mengambil setengah bekalmu. Dan masih berbaik hati meninggalkan setengahnya untuk Adi agar Adi tidak kelaparan. Begini saja, besok akan Ibu siapkan bekal lebih banyak, dua kali dari biasanya. Adi berikan sebungkus kepada penjaga sekolah. Cukup berikan saja, tidak perlu menegur atau berkata apapun kepadanya. Kita lihat apa reaksinya, setuju?”

Keesokan harinya, Adi menemui penjaga sekolah dan menyerahkan sebungkus bekal. Penjaga sekolah terkejut sesaat, wajahnya pucat dan takjub. Dengan tangan gemetar, diterimanya bingkisan itu. Tampak matanya berkaca-kaca. Sambil terbata-bata dia berkata, “Terima kasih, terima kasih Nak. Bapak minta maaf telah mengambil setengah jatah bekal Nak Adi. Bapak sungguh menyesal dan dihantui perasaan bersalah. Bapak lakukan karena terpaksa. Anak bapak sakit, sedangkan uang kami tidak cukup untuk membeli makanan karena istri bapak memerlukan biaya untuk melahirkan. Mohon maafkan Bapak, Nak. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya. Dan terima kasih karena tidak melaporkan kepada pihak sekolah sehingga Bapak masih bisa bekerja. Sampaikan permintaan maaf dan terima kasih kami pada ibumu. Sungguh beliau seorang ibu yang baik dan bijak”.
Sambil mengangguk senang, Adi meninggalkan penjaga sekolahnya.

Kesimpulan,

kesalahan, walau dengan alasan apapun, tidak akan menjadi benar. Mau menyadari, mengakui kesalahan, dan meminta maaf adalah sebuah kebesaran jiwa. Dan berjanji untuk tidak mengulangi adalah kebijaksanaan tertinggi.
Sebaliknya, bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan rela memberi bantuan dan menyadarkannya, bukan hanya damai di hati tetapi sekaligus menunjukkan kita, manusia, sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka jelas sekali, jika bisa berbagi, kita akan bahagia.
Share and be happy...
;)


Oleh : Andrie Wongso
Read More Gan...

Semangkok bakso (Kisah Motivasi Pengendalian diri)

8/27/2009 12:17:00 PM Posted In Edit This 1 Comment »


Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.

“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku! Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan!” gerutunya dalam hati. “ Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”

Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap kepulan asap di atas semangkuk bakso.

“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.

“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.

“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mie bakso yang super enak.” Putri pun segera duduk di dalam.

Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.

“Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”

“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.”

Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”

Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,

“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.”

“Ibu, maafkan Putri, Bu,”
Putri pun menangis dan menyesal di pelukan

ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibunya Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.

Teman-teman yang luar biasa,

Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita.
Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap
membantu, kapan pun.

Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak

sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri.
Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan
diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

Semoga bermanfaat....

;)



Oleh : Andrie Wongso
Read More Gan...